HOME / ENVIRONMENT

LIMBAH LOGAM BERAT MASIH MENGANCAM .

Petrominer Kamis, 19 Desember 2013 - 14:24:50 WIB

Jakarta, Petrominer -- Menteri Lingkungan Hidup  Prof. Dr. Balthasar Kambuaya melakukan  inspeksi ke lokasi Pemulihan Lahan Terkontaminasi Timbal (Pb) di Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Kamis (19/12). Timbal (Pb) merupakan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.

Walaupun bensin bertimbal telah dihapuskan sejak 1 Juli 2006 di Indonesia, namun pencemaran Timbal (Pb) masih mengancam kesehatan masyarakat di Indonesia salah satunya diakibatkan oleh emisi Timbal yang berasal dari industri peleburan aki bekas.

Hingga tahun 2012 di Jabodetabek telah teridentifikasi 71 lokasi lahan tercemar Timbal akibat kegiatan daur ulang aki bekas. Salah satu lokasi lahan yang tercemar logam berat Timbal adalah Desa Cinangka, Kecamatan Ciampea. Hasil penelitian menunjukkan kadar Timbal (Pb) di dalam tanah mencapai 270.000 ppm (270.000 mg/Kg), sedangkan standard yang ditetapkan oleh WHO sebesar maksimal 400 ppm (400 mg/Kg), disamping itu kadar Pb di dalam darah masyarakat disekitar lokasi sudah ada yang mencapai 65 μg/dL. Konsentrasi ini melebihi batas aman yang ditetapkan oleh WHO yaitu 10 μg/dL.

Selain limbah Timbal  (Pb), jenis limbah B3 yang paling membahayan bagi  membahayakan masyarakat dan lingkungan adalah limbah yang mendadung logam berat yaitu Merkuri (Hg) dan Arsen (As). Limbah logam berat ini bersifat racun dan persisten, sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup. Salah satu dampak yang signifikan bagi kesehatan manusia adalah penurunan IQ terutama bagi anak-anak dan balita, merusak produksi haemoglobin darah, menyebabkan ketidaksuburan bagi wanita/ pria, keguguran, dan bayi meninggal dalam kandungan.

Menurut Menteri salah satu kegiatan yang harus segera dilakukan adalah menghentikan kegiatan peleburan Timbal dari aki bekas yang dilakukan secara illegal. "Kita harus segera melakukan pemulihan lahan-lahan yang terkontaminasi Timbal baik di lokasi yang tidak bertuan (abandoned lands) maupun di lokasi lain untuk menghentikan dampak pencemaran Timbal terhadap kesehatan manusia dan lingkungan hidup," kata menteri.

Berkaitan dengan upaya pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 menteri meminta penanggungjawab usaha  wajib melakukan pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 yang diakibatkan dari usahanya. Akan tetapi, bagi usaha dan/atau kegiatan yang tidak jelas penanggung jawabnya maka pemerintah daerah berkewajiban melakukan pengawasan dan menghentikan kegiatan illegal yang dapat membahayakan kesehatan manusia. "Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama dapat menghentikan sumber pencemar, mengurangi resiko dengan penerapan prosedur peleburan yang benar dan ikut berperan dalam pelaksanaan pemulihan lahan terkontaminasi. Kami mendorong industry produsen aki untuk ikut andil memantau peredaran aki sampai habis pakai di masyarakat melalui program Extended Producer Respontibility (EPR) yaitu membeli kembali aki bekas atau menukar dengan aki baru dengan potongan harga. Sementara bagi industri peleburan aki bekas dan asosiasinya untuk bekerja lebih keras agar tidak mencemari lingkungan," kata Balthasar.

Kementerian Lingkungan Hidup menginisiasi upaya pemulihan lahan terkontaminasi limbah B3 (Timbal/Pb) di Desa Cinangka yang telah melalui proses persiapan yang panjang. Berbagai pihak telah dilibatkan antara lain Pemda Kabupaten Bogor dan jajarannya (BLHD, Bappeda, DTRP, Diskes), Camat Ciampea, dan LSM di bidang lingkungan, yaitu Blacksmith Institute dan KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbel). Kegiatan pemulihan ini merupakan pilot project yang diharapkan menjadi pemicu bagi kegiatan serupa di lokasi terkontaminasi lainnya di Indonesia, terutama di lokasi yang tidak jelas penanggungjawab pencemarnya. (bas)